Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iran Nyatakan Tak Takut dengan Pengerahan Kapal Induk AS di Timur Tengah

Minggu, 08 Februari 2026 | Februari 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-09T01:01:37Z

Narasi Indonesia.com, Teheran - Pemerintah Iran menyatakan tidak takut dengan pengerahan militer Amerika Serikat (AS), termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, di kawasan Timur Tengah.


Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak kemungkinan Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium dalam negosiasinya dengan Washington, dan menegaskan bahwa negaranya tidak akan terintimidasi oleh ancaman perang oleh AS, dikutip pada laman resmi inews.id.


Araghchi mengatakan dalam sebuah forum di Teheran yang dihadiri oleh AFP bahwa Iran kurang percaya pada Washington dan meragukan bahwa pihak AS menanggapi negosiasi yang diperbarui dengan serius.


Dia kemudian mengatakan bahwa Iran sedang berkonsultasi dengan mitra strategisnya; China dan Rusia, tentang perundingan tersebut.


"Mengapa kami begitu bersikeras pada pengayaan dan menolak untuk menghentikannya, bahkan jika perang dipaksakan kepada kami? Karena tidak ada yang berhak mendikte perilaku kami," kata Araghchi di forum tersebut.


"Pengerahan militer mereka di kawasan ini tidak membuat kami takut," ujarnya, merujuk pada kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, sebagaimana dikutip dari AFP, Senin (9/2/2026).


Amerika Serikat dan Iran membuka kembali negosiasi pada hari Jumat di Oman untuk pertama kalinya sejak perang 12 hari Israel dengan republik Islam tersebut pada Juni tahun lalu, yang sempat diikuti oleh AS.


Teheran berupaya agar sanksi ekonomi AS terhadap Iran dicabut, sebagai imbalan atas apa yang dikatakan Araghchi di forum itu sebagai "serangkaian langkah membangun kepercayaan terkait program nuklir".


Negara-negara Barat dan Israel—yang dianggap sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki senjata nuklir—mengatakan Iran berupaya memperoleh bom atom, yang dibantah oleh republik Islam tersebut.


"Mereka takut akan bom atom kami, sementara kami tidak mencarinya. Bom atom kami adalah kekuatan untuk mengatakan 'tidak' kepada kekuatan-kekuatan besar," kata Araghchi.


Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada hari Minggu mengecam apa yang dia sebut sebagai "upaya rezim paling ekstrem di dunia untuk memperoleh senjata paling berbahaya di dunia", dengan menyatakannya sebagai "ancaman nyata bagi perdamaian".


AS dan Israel juga menginginkan negosiasi melampaui masalah nuklir dan mencakup rudal balistik Iran dan dukungan untuk kelompok-kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah, isu-isu yang ditolak Iran untuk dimasukkan dalam perundingan.


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—yang dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pada hari Rabu—bersikeras agar kedua komponen itu dimasukkan dalam negosiasi apa pun, kata kantornya pada Sabtu pekan lalu.


"Perdamaian Melalui Kekuatan"


Komentar Araghchi muncul setelah negosiator utama AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengunjungi kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln pada hari Sabtu, kata Komando Pusat (CENTCOM) AS.


Dalam unggahan media sosial, Witkoff mengatakan, "Kapal induk dan kelompok serangnya menjaga kita tetap aman dan menjunjung tinggi pesan Presiden Trump tentang perdamaian melalui kekuatan."


Ancaman perang terus membayangi negosiasi, bahkan ketika Trump menyebut pembicaraan itu "sangat baik" dan Presiden Iran Masoud PezeshKian mengatakan bahwa hal itu "merupakan langkah maju".


Setelah putaran pertama pada hari Jumat di Oman, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menyerukan pemberlakuan tarif terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran meskipun ada sanksi AS.


Amerika Serikat juga mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman, yang bertujuan untuk mengekang ekspor minyak Iran.


Pada forum Teheran hari Minggu, Araghchi mempertanyakan komitmen Amerika Serikat terhadap diplomasi.


"Kelanjutan sanksi dan tindakan militer tertentu menimbulkan keraguan tentang keseriusan dan kesiapan pihak lain untuk melakukan negosiasi yang tulus," katanya.


"Kami memantau situasi dengan cermat, menilai semua sinyal dan akan memutuskan kelanjutan negosiasi."*


 

×
Berita Terbaru Update