![]() |
Narasi
Indonesia.com, JAKARTA-Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuka ruang
diskusi dan musyawarah terkait aspirasi sejumlah Pengurus Cabang Istimewa
Nahdlatul Ulama (PCINU) dari seluruh dunia mengenai konsesi tambang pada Jumat
(14/6/2024). PBNU menyediakan ruang diskusi agar tidak ada kesalahpahaman
terkait kebijakan yang diambil PBNU mengenai penerimaan konsesi tambang yang
berasal dari kebijakan afirmatif pemerintah untuk ormas keagamaan.
Ketua Umum
PBNU, KH Yahya Cholil Staquf hadir secara daring untuk menyampaikan pidato
kunci. Dalam kegiatan yang diprakarsai Badan Pengembangan Jaringan
Internasional (BPJI) PBNU ini, Gus Yahya menekankan bahwa alasan mendasar
penerimaan konsesi tambang ada pada pengelolaannya, pada Jumat (21/6/2024).
Menurut
Gus Yahya, cara lama dengan penggalangan donasi dan koin NU tidak bisa
dijadikan sebagai kekuatan materi untuk strategi jangka panjang. Sebab,
kebutuhan operasional organisasi yang cukup besar.
“Di
samping strategi lama tidak bisa diterapkan di semua daerah, juga uang yang
didapatkan dari warga harus dikembalikan kepada warga, baik melalui zakat atau
infak dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan organisasi,” ungkap Gus Yahya.
Menurutnya,
proyek tambang juga bermanfaat untuk mengantisipasi langkah Bank Dunia dan
perbankan besar dunia yang menolak memberikan pinjaman bagi proyek yang terkait
energi fosil dan menekan negara-negara miskin untuk pengadaan energi terbarukan.
“PBNU
menegaskan bahwa tambang yang dimaksudkan oleh Pemerintah adalah sebagai solusi
menyeluruh bukan dalam rangka kooptasi,” tegas Gus Yahya.
Ia
menegaskan, PBNU memiliki kapasitas untuk melakukan pengelolaan tambang dengan
beragam tantangannya seperti monopoli teknologi oleh Barat yang harus dilawan
dengan liberalisasi teknologi. Gus Yahya juga mengatakan, PBNU telah membentuk
badan usaha pertambangan minyak, retail, dan travel.
Selain
itu, sambungnya, PBNU akan membentuk koperasi yang menggunakan sistem
terintegrasi sehingga orang-orang PBNU tidak bisa semena-mena.
“Konsekuensi
yang harus diambil oleh PBNU adalah membangun kapasitas secara besar-besaran
untuk mendapatkan revenue,” ujar Gus Yahya.
Diskusi
yang diikuti 29 PCINU tersebut berjalan terbuka dan interaktif. Ahmad Shiddiq,
pengurus BPJI PBNU memimpin jalannya diskusi. Sebelumnya, Ketua BPJI PBNU, Jodi
Mahardika hadir menyampaikan sambutan.
