Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Saat Prabowo Kecam Keras Insiden 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | April 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-05T06:09:23Z

Narasi Indonesia.com, Jakarta - Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon, yakni Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon telah kembali ke Indonesia pada Sabtu (4/4/2026) malam. 


Di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyambut langsung tiga pahlawan yang gugur itu.


Mereka datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Farizal, Ikhwan, dan Zulmi.


Tangisan anggota keluarga yang ditinggalkan pun pecah ketika menyambut peti berisi jenazah. Prabowo lantas memberikan pelukan kepada mereka.


Setelah insiden yang menewaskan prajurit TNI ini, Panglima telah memerintahkan kepada pasukan perdamaian yang masih ada di Lebanon untuk berlindung di bunker. Kecaman Prabowo Melalui akun X-nya, Prabowo menyampaikan bahwa bangsa Indonesia berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam tugas mulia sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon.


Dia menegaskan mengecam keras pihak yang menewaskan tiga prajurit TNI itu. "Kami, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mengecam keras setiap tindakan keji yang merusak perdamaian dan menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik bangsa," cuit Prabowo, dikutip Minggu (5/4/2026), pada laman resmi Kompas.com.


Prabowo mengatakan, negara akan selalu hadir untuk menghormati jasa para pahlawan, menjaga kehormatan prajurit, serta memastikan pengorbanan mereka tidak pernah dilupakan. Dia pun mengajak semua pihak untuk melanjutkan semangat dan tekad untuk menjaga perdamaian.


"Serta tidak memberi ruang bagi siapa pun yang berusaha memecah belah kebersamaan dan kerukunan bangsa," imbuhnya.


Keluarga Diminta Tak Risau Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mengimbau keluarga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian di Lebanon, untuk tidak merasa risau di tengah situasi keamanan yang memanas. Dia menegaskan, para prajurit yang bertugas di wilayah misi perdamaian telah memahami langkah-langkah yang harus dilakukan dalam berbagai situasi.


 “Ya, enggak usah risau. Sebetulnya mereka juga sebetulnya tahu apa yang harus dilakukan. Tapi apapun juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut. Yang penting doakan saja, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik. Saya kira itu,” ujar Maruli saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4/2026).


Menurut Maruli, TNI juga telah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur tindakan prajurit dalam kondisi tertentu di lapangan, sekaligus menjamin keamanan dan keselamatan mereka.


“Ya, sebetulnya, mereka sudah ada SOP, ya. SOP untuk bagaimana apa yang harus dilakukan dalam kondisi apa. Jadi, saya kira SOP mereka sudah, sudah ada, dan bagaimana nanti pelaksanaannya tinggal nunggu waktu,” pungkasnya. Evaluasi Pemerintah Indonesia meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengevaluasi jaminan keselamatan pasukan penjaga perdamaian di wilayah manapun.


Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono menyusul serangkaian insiden yang menimpa prajurit TNI di Lebanon dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). "Kita juga meminta kepada PBB untuk mengevaluasi lagi keselamatan prajurit penjaga perdamaian PBB ini di mana pun berada khususnya di UNIFIL ini,” ujar Sugiono saat ditemui di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (4/4/2026).


“Oleh karena itu kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi agar pasukan perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka," sambungnya.


Sugiono menegaskan bahwa Indonesia juga menuntut dilakukan investigasi menyeluruh atas insiden yang terjadi dalam misi perdamaian tersebut.


Menurut dia, insiden yang menimpa pasukan perdamaian seharusnya tidak terjadi, mengingat mandat mereka adalah menjaga stabilitas, bukan terlibat dalam konflik. "Hal seperti ini, ya kalau kita ngomong tidak seharusnya, tidak seharusnya terjadi tetapi kenyataannya ini terjadi. Harus ada satu guarantee (jaminan) keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian karena mereka menjaga perdamaian, they are peacekeeping not peacemaking," kata Sugiono.*

×
Berita Terbaru Update