Narasi Indonesia.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadan 1447 H akan digelar di Istana Negara, Jakarta. Kepastian itu disampaikan usai dirinya menghadap Presiden Prabowo Subianto.
“Saya baru saja menghadap Bapak Presiden untuk membicarakan persiapan Nuzulul Quran. Jadi, Insha Allah Nuzulul Quran yang akan dilaksanakan di Jakarta tepatnya di Istana Negara,” kata Nasaruddin kepada wartawan, Rabu (4/3/2026), dikutip pada laman resmi inews.id.
Dia menerangkan, ada beberapa opsi terkait lokasi acara Nuzulul Quran mulai dari Masjid Istiqlal dan Istana Garuda IKN. Namun, kata dia, Prabowo menyampaikan acara yang akan dihadirinya tersebut bakal dilaksanakan di Istana Negara.
“Kami bicarakan juga mengenai teknis karena banyak alternatif apakah di IKN apakah di Istiqlal apakah di Istana. Bapak presiden memberi petunjuk kita lakukan di Istana Negara,” ujar dia.
Nasaruddin menambahkan, pertemuan itu turut membahas terkait lokasi pembayaran zakat Prabowo dan para anggota Kabinet Merah Putih.
“Kami juga membicarakan tentang pembayaran zakat untuk Bapak Presiden beserta para pejabatnya itu juga kita akan jadwalkan di Istana Negara,” jelas dia.
Pada kesempatan itu, dia juga melaporkan akbiran Idulfitri 1447 H yang berbarengan dengan Hari Raya Nyepi pada 19 Maret 2026 mendatang.
“Saya juga melaporkan persiapan Lebaran yang akan datang karena beberapa tempat ya, tanggal 19 itu kan Hari Nyepi. Hari Nyepi kita tahu tidak boleh ada suara berisik, tidak boleh ada kendaraan, padahal malamnya ada teman-teman kita takbir," kata Nasaruddin.
Dia menambahkan, takbiran boleh dilakukan di Bali saat Nyepi, namun tidak menggunakan sound system atau pengeras suara.
“Cuma tidak pakai sound system daripada waktu jam 18.00 sampai jam 21.00," tutur dia.
Dia menyebut, pihaknya sudah bersepakat dengan pemerintah daerah dan tokoh-tokoh Bali agar perayaan malam takbiran tidak bertentangan dengan perayaan Nyepi.
“Alhamdulillah kami melapor kepada Bapak Presiden sudah ada kesepakatan dengan pemerintah setempat dan tokoh-tokoh di Bali bahwa takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi. Cuma syaratnya ya Nyepi-nya berjalan, tapi takbirnya juga berjalan,” ujar dia.*
