![]() |
Hal itu disampaikan Doli saat menerima audiensi Pengurus Kohati PB HMI periode 2024-2026 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada 13 Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Doli menekankan bahwa organisasi mahasiswa bukan sekadar ruang aktivitas kampus, melainkan kawah candradimuka yang menempa mental, integritas, serta orientasi perjuangan kader-kader muda. Menurutnya, organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah terbukti melahirkan banyak pemimpin bangsa di berbagai sektor.
“Saya kira HMI dan semua organisasi mahasiswa berperan penting dalam menyiapkan anak-anak muda yang memiliki idealisme perjuangan,” ujar Doli.
Secara khusus, Doli menaruh perhatian pada peran Korps HMI-Wati (Kohati) sebagai wadah kaderisasi perempuan di tubuh HMI. Ia menilai Kohati memiliki tanggung jawab besar untuk memperkuat kapasitas intelektual, keberanian, dan karakter kepemimpinan perempuan agar mampu tampil di ruang-ruang strategis, baik di dunia organisasi, politik, maupun kehidupan sosial kemasyarakatan.
Menurut Doli, kepemimpinan perempuan dalam organisasi mahasiswa tidak boleh hanya dipandang sebagai pelengkap, tetapi harus ditempatkan sebagai kekuatan utama dalam proses pengkaderan dan transformasi sosial.
Ia menegaskan bahwa perempuan kader HMI harus mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, demokrasi, dan komitmen kebangsaan.
Doli juga membagikan pengalaman organisasinya yang panjang, mulai dari kiprah di PB HMI hingga KNPI, yang menurutnya menjadi fondasi penting dalam perjalanan politik dan pengabdiannya saat ini.
Bagi Doli, organisasi mahasiswa merupakan sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya. Di dalamnya, mahasiswa belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, daya juang, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan merawat idealisme di tengah perubahan zaman.
Ia meyakini, tradisi intelektual dan militansi kader HMI akan terus menjadi modal penting dalam melahirkan generasi pemimpin masa depan yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan.
Dalam audiensi tersebut, Doli juga mengingatkan pentingnya kesinambungan kaderisasi agar organisasi mahasiswa tetap relevan dan mampu menjawab tantangan masa depan. Menurutnya, penguatan sistem pengkaderan yang adaptif namun tetap berakar pada nilai-nilai dasar perjuangan menjadi kunci untuk melahirkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki keberpihakan pada kepentingan rakyat dan bangsa.
Pertemuan dengan Pengurus Kohati PB HMI ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali bahwa kepemimpinan perempuan dalam organisasi mahasiswa merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya menyiapkan Indonesia yang lebih maju.
Dengan penguatan peran Kohati, Doli berharap lahir lebih banyak kader perempuan yang mampu tampil sebagai pemimpin berkarakter, berintegritas, dan siap membawa perubahan positif bagi masyarakat.*
(m/NI)
