Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi Siswa SD Meninggal di NTT karena Tak Mampu Beli Alat Tulis, Negara Gagal Menjamin Hak Pendidikan

Senin, 09 Februari 2026 | Februari 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-09T15:41:24Z

 


Narasi Indonesia.com, JAKARTA- Komisi Pendidikan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menilai kematian seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai tragedi kemanusiaan sekaligus alarm keras atas kegagalan negara dalam menjamin hak dasar pendidikan anak-anak miskin.


Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar, diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan berat yang dialami keluarga. Berdasarkan informasi yang dihimpun, YBS sempat meminta uang kepada ibunya, MGT (47), untuk membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp 10.000. Permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.


Bagi keluarga tersebut, nominal Rp 10.000 bukan perkara mudah. MGT bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, serta menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal suaminya. Ia harus menafkahi lima orang anak dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Untuk mengurangi beban ibunya, YBS bahkan diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok sederhana.


Tragedi itu terjadi pada Kamis (29/1/2026). Tak jauh dari pondok tempat tinggal neneknya, YBS ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh. Peristiwa tersebut mengguncang masyarakat setempat dan memicu keprihatinan luas terhadap kondisi sosial dan pendidikan di daerah tertinggal.


Ketua Komisi Pendidikan PB HMI menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai kejadian individual semata, melainkan sebagai potret ketimpangan struktural dalam sistem pendidikan dan perlindungan sosial.


“Ini tragedi kemanusiaan. Seorang anak kehilangan masa depan hanya karena tidak mampu membeli alat tulis. Negara harus bertanya pada dirinya sendiri: di mana kehadiran negara ketika anak-anak seperti YBS berjuang bertahan dalam kemiskinan,” ujar Ketua Komisi Pendidikan PB HMI dalam pernyataan tertulis, Senin 09/02/2026.


Persentase Penduduk Miskin Provinsi Nusa Tenggara Timur September ...


PB HMI merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia, dengan persentase penduduk miskin sekitar 20 persen pada 2024. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 9 persen. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan tidak langsung pendidikan anak, seperti alat tulis, seragam, dan biaya transportasi.


Dalam konteks nasional, PB HMI juga menyoroti arah kebijakan anggaran pendidikan. Meski APBN mengalokasikan minimal 20 persen anggaran untuk pendidikan, sesuai amanat Pasal 31 UUD 1945, PB HMI menilai persoalan utama terletak pada prioritas penggunaan anggaran.


Korban Keracunan MBG Capai 16 Ribu Orang per Akhir Oktober ...


Kritik tersebut menguat seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap anggaran besar, namun diwarnai berbagai persoalan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa sepanjang 2025, lebih dari 10.000 siswa di berbagai daerah mengalami dugaan keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG. Data Kementerian Kesehatan juga mengonfirmasi ribuan laporan gangguan kesehatan pada siswa, mulai dari mual, muntah, hingga diare, dan sebagian memerlukan perawatan medis.


“Ketika anggaran besar dialokasikan untuk program yang belum matang dan justru membahayakan kesehatan siswa, sementara masih ada anak yang putus asa karena tidak mampu membeli buku dan pena, maka ini menunjukkan kesalahan serius dalam penentuan prioritas kebijakan,” kata Ketua Komisi Pendidikan PB HMI.


PB HMI mendesak pemerintah melakukan evaluasi total terhadap alokasi anggaran pendidikan, termasuk audit menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG dan dampaknya terhadap pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan. Menurut PB HMI, negara harus memastikan bahwa setiap anak tetap bisa bersekolah dengan layak, aman, dan bermartabat, tanpa dibebani persoalan ekonomi keluarga.


Lebih lanjut, Ketua Komisi Pendidikan PB HMI menyatakan bahwa pihaknya tidak akan berhenti pada pernyataan moral semata. Apabila tuntutan evaluasi kebijakan pendidikan dan penataan ulang anggaran tidak ditindaklanjuti secara serius, PB HMI menyatakan siap mengonsolidasikan kekuatan organisasi.


“Jika negara terus abai, kami akan mengajak seluruh kader HMI di seluruh Indonesia untuk turun ke jalan secara konstitusional. Ini bukan sekadar kritik, ini tuntutan keadilan bagi anak-anak bangsa,” ujarnya.


PB HMI menegaskan, tragedi YBS di Ngada harus menjadi titik balik kebijakan pendidikan nasional. Keberhasilan pembangunan pendidikan tidak diukur dari banyaknya program atau besarnya anggaran, melainkan dari kehadiran negara dalam melindungi hak hidup, hak belajar, dan masa depan anak-anak Indonesia, terutama mereka yang paling rentan.


Editor:
(m/NI)

×
Berita Terbaru Update