Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rusia dan China Sampaikan Kekhawatiran atas Rancangan Resolusi Gencatan Senjata AS antara Israel dan Hamas

Minggu, 09 Juni 2024 | Juni 09, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-06-09T08:37:29Z


Narasi Indonesia.com, JAKARTA-Rusia dan China menyampaikan kekhawatiran mereka atas rancangan resolusi yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) untuk gencatan senjata antara Israel dan militan Palestina Hamas. Selain China dan Rusia, Aljazair, salah satu anggota Arab di Dewan Keamanan PBB, juga mengisyaratkan ketidaksiapan mereka untuk mendukung teks tersebut.


Pekan lalu, Presiden AS Joe Biden memaparkan rencana gencatan senjata tiga fase untuk Jalur Gaza, yang digambarkan sebagai inisiatif Israel. AS saat ini sedang mencari dukungan internasional untuk rencana yang masih dipelajari oleh Hamas.


Pada Senin, AS mengedarkan rancangan resolusi satu halaman kepada Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara, diikuti oleh versi revisi pada Rabu. Draf saat ini menyambut baik usulan gencatan senjata dan menggambarkannya sebagai "dapat diterima" oleh Israel. Draf tersebut juga "menyerukan Hamas untuk menerimanya" dan mendesak kedua belah pihak untuk melaksanakan ketentuannya tanpa penundaan dan tanpa syarat, dikutip pada laman resmi CNBC Indonesia.


Draf ini mencantumkan beberapa detail usulan, dengan "gencatan senjata penuh dan menyeluruh" di Jalur Gaza sebagai bagian dari fase pertama dan "penghentian permusuhan secara permanen" pada fase kedua, atas persetujuan para pihak.


Namun, beberapa anggota dewan mempertanyakan apakah Israel benar-benar telah menerima rencana tersebut dan menginginkan dewan tetap pada tuntutan yang dibuat pada Maret untuk gencatan senjata segera dan pembebasan tanpa syarat semua sandera, menurut laporan Reuters yang mengutip para diplomat pada Minggu (9/6/2024).


Rusia mengusulkan amandemen terhadap teks AS yang mencakup seruan kepada Hamas dan Israel untuk menerima usulan tersebut dan menuntut gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen yang dihormati oleh semua pihak. Moskow juga ingin agar draf tersebut menekankan bahwa gencatan senjata fase pertama akan tetap berlaku selama negosiasi berlanjut pada fase kedua, mencerminkan pernyataan yang dibuat oleh Biden minggu lalu.


Untuk meloloskan resolusi tersebut, diperlukan setidaknya sembilan suara yang mendukung dan tidak ada veto dari AS, Prancis, Inggris, China, atau Rusia.


Selama berbulan-bulan, negosiator dari AS, Mesir, dan Qatar telah berupaya memediasi gencatan senjata. Hamas mengatakan ingin mengakhiri perang di Jalur Gaza secara permanen dan menginginkan Israel menarik diri dari wilayah yang berpenduduk 2,3 juta orang tersebut.*


(m/NI)



×
Berita Terbaru Update