![]() |
Empat buku yang diperkenalkan masing-masing berjudul Perspektif, Kacamata Doli Kurnia (2), Quote of The Day, dan Kacamata versi Komik. Dengan peluncuran tersebut, Doli menyebut jumlah buku yang telah ditulisnya sejak 1999 kini mencapai 14 judul.
"Secara keseluruhan saya telah menulis 14 buku sejak 1999," ujar Doli dalam keterangannya.
Doli menjelaskan, buku Perspektif bukan merupakan autobiografi, melainkan kumpulan pandangannya terhadap berbagai peristiwa, lingkungan, dan orang-orang yang mewarnai perjalanan hidupnya sejak kecil di Medan hingga menjadi politisi.
"Buku ini tidak menceritakan diri saya, melainkan menulis tentang lingkungan dan orang-orang yang berkesan dalam hidup. Bukan autobiografi; justru ini merupakan cara pandang atau perspektif saya tentang apa yang saya lihat dan rasakan sejak kecil hingga sekarang. Mungkin satu peristiwa bisa dilihat secara berbeda oleh masing-masing dari kita, dan itulah kekayaan perspektif," katanya.
Sementara itu, buku Kacamata Doli Kurnia (2) berisi kumpulan tulisan Doli selama setahun terakhir yang mengulas berbagai isu, mulai dari Undang-Undang Pemilu, sistem politik, kekerasan terhadap anak, hingga persoalan Palestina dan Iran.
"Sebagai anggota parlemen, pada dasarnya saya tidak hanya mewakili satu bidang atau satu daerah pemilihan saja, tetapi juga semua isu yang menjadi kegelisahan rakyat," ujarnya.
Doli berharap keempat buku tersebut dapat menjadi inspirasi sekaligus ruang diskusi bagi masyarakat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pengisi acara, roaster, serta rekan-rekan aktivis yang memberikan testimoni dan masukan.
"Terima kasih atas semuanya. Saya merasa bahwa saya akan tetap menjadi aktivis ke depan. Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran. Saya ingin menjadi orang yang tidak antikritik dan selalu terbuka," ucapnya.
Menurut Doli, ADK Show bukan sekadar ajang reuni, tetapi juga menjadi ruang refleksi pribadi.
"Masukan-masukan ini sangat berharga bagi saya. Karena itu, saya berterima kasih kepada keluarga besar aktivis," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, tokoh senior Partai Golkar Akbar Tandjung mengingatkan bahwa kehormatan dan ketenaran merupakan bagian dari ujian yang harus dijalani seorang pemimpin.
"Kehormatan dan ketenaran juga merupakan bagian dari cobaan. Karena itu, selalu membumi dan ingat pada janji-janji yang menanti untuk diwujudkan," ujar Akbar.
Ia juga menegaskan bahwa demokrasi harus tetap memberikan ruang bagi kritik, namun tetap memerlukan keteraturan agar mampu menghasilkan kehidupan berbangsa yang lebih baik.
"Hakikat demokrasi juga sebetulnya keteraturan. Kalau demokrasi tidak diatur, bisa kacau," katanya.
Mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa turut memberikan testimoni mengenai kerja sama dengan Doli dalam penyusunan Undang-Undang Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia mengapresiasi kejelian Doli yang mengusulkan perlunya Peraturan Presiden untuk memastikan waktu dimulainya pembangunan ibu kota.
Guru Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menilai Doli sebagai representasi kader Golkar dan HMI yang diperhitungkan dalam politik nasional. Meski demikian, ia menyampaikan catatan ringan mengenai karakter Doli.
"Saya melihat Doli kurang punya sense of humor," ujarnya yang disambut tawa para hadirin.
Aktivis senior Fachry Ali menilai Ahmad Doli Kurnia Tandjung merupakan sosok yang dapat menjadi pegangan di tengah dinamika politik nasional yang penuh ketidakpastian.
"Di tengah politik praktis yang terasa seperti teka-teki, publik membutuhkan tonggak yang kuat. Salah satunya adalah Ahmad Doli Kurnia Tandjung," katanya.
Acara ADK Show dihadiri ratusan aktivis, akademisi, jurnalis, dan politisi, baik yang berada di koalisi pemerintah, menjadi penyeimbang, maupun oposisi. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Syahganda Nainggolan, Rocky Gerung, Bursah Zarnubi, Mardani Ali Sera, Adian Napitupulu, Titi Anggraini, Feri Amsari, Budiman Tanuredjo, Arifin Asydhad, Akbar Faizal, Syukur Mandar, Marzuki Darusman, Jimly Asshiddiqie, Suharso Monoarfa, Fachry Ali, serta MS Kaban.*
(m/NI)
