![]() |
| Dok, Maryati, berkacamata menggunakan jilbab hijau muda posisi di tengah. |
Narasi Indonesia.com, PURWOREJO- Berawal dari keluarga sederhana dengan ibu seorang tukang pijat tradisional, Maryati membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan. Perjalanan hidup perempuan asal Tersidi Kidul, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, itu penuh perjuangan. Merantau untuk sekolah, menjadi pembantu rumah tangga sambil belajar, kuliah, menikah sebelum lulus, membesarkan anak, hingga kembali melanjutkan pendidikan dan mengabdi sebagai guru sampai pensiun.
Kisah
inspiratif tersebut kembali dikenang Maryati saat mengikuti temu kangen bersama
rekan-rekan sekolah dasar angkatan 1965–1966 di Dlisen, Tersidi Lor, Pituruh,
Purworejo, Kamis (6/8/2026). Sekitar 25 orang hadir dalam pertemuan yang
berlangsung penuh keakraban tersebut.
Bagi
Maryati, temu kangen itu bukan sekadar ajang bernostalgia. Pertemuan tersebut
menjadi kesempatan untuk mengingat kembali masa sekolah sekaligus menyadari
betapa cepat waktu berlalu. Hampir separuh rekan satu angkatannya telah
meninggal dunia, sementara sebagian lainnya tidak lagi diketahui kabarnya.
“Pertemuan
ini menjadi kesempatan untuk mengingat kembali masa-masa sekolah. Banyak teman
yang sudah tidak bersama kita lagi,” kenang Maryati.
Berawal dari Ibu Seorang Tukang Pijat
Maryati
sebenarnya berasal dari keluarga besar dengan sepuluh bersaudara. Dari sepuluh
bersaudara tersebut, hanya empat yang tersisa, dan tiga di antaranya kemudian
menjadi guru. Keluarganya berasal dari Desa Tersidi Kidul, Kecamatan Pituruh,
Kabupaten Purworejo. Ibunya, Mbah Dul, bekerja sebagai tukang pijat tradisional
dan menjadi orang tua tunggal sejak Maryati duduk di kelas 4 SD. Saat itu, adik
bungsu Maryati, yang biasa dipanggil Lek Bolah, masih berada dalam kandungan.
Kondisi tersebut membuat kehidupan keluarga semakin berat, tetapi justru di
tengah keterbatasan itulah ibunya menanamkan keyakinan bahwa anak-anaknya harus
bersekolah.
Mbah
Dul selalu berpesan kepada anak-anaknya agar mereka sekolah. Ia sendiri pernah
merasakan pendidikan, tetapi dahulu tidak diperbolehkan menjadi guru karena ada
kekhawatiran akan ditempatkan di luar Jawa. Karena pengalaman itu, ia tidak
ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama. “Kamu harus sekolah,” demikian
pesan yang terus ditanamkan kepada anak-anaknya. Bagi keluarga mereka, sekolah
menjadi pilihan yang harus diperjuangkan, bahkan ketika sawah yang dimiliki
harus dijual untuk membiayai pendidikan.
Semangat
tersebut menjadi bekal penting bagi Maryati. Sejak kecil, ia memiliki keinginan
untuk terus bersekolah. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat cita-cita
tersebut bukan sesuatu yang mudah diwujudkan. Pada masa itu, melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi bahkan merupakan sesuatu yang sangat jarang
terjadi di desanya. Dalam satu generasi, hanya dua orang dari Desa Tersidi
Kidul yang melanjutkan kuliah, yakni Maryati dan Iskandar. Iskandar merupakan
anak seorang juragan tembakau sehingga kondisi ekonominya jauh lebih mapan.
Iskandar kini telah meninggal dunia.
Di Desa Tersidi Kidul sendiri terdapat sebuah legenda yang turut menggambarkan kuatnya pandangan masyarakat pada masa itu. Konon, siapa pun yang berani menjadi guru atau pegawai akan meninggal dunia. Kepercayaan tersebut membuat pilihan untuk menjadi guru atau pegawai bukan sesuatu yang lazim. Namun, keluarga Maryati justru berani mendobrak pandangan tersebut. Tiga dari empat saudara yang tersisa kemudian menjadi guru. Kesempatan bagi Maryati untuk melanjutkan sekolah kemudian datang melalui pertemuan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Suatu
hari, Mbah Kiai Haji Yusuf Pranoyoso datang ke rumah Maryati bersama cucunya
untuk meminta pijat kepada ibunya. Saat itu, sang ibu sedang berada di sawah.
Maryati kemudian membuatkan pisang goreng untuk tamunya. Dalam percakapan
tersebut, Mbah Yusuf mengetahui kondisi Maryati. Ia kemudian menawarkan agar
Maryati ikut dengan keluarga kerabatnya yang memiliki hubungan dengan dunia
pendidikan. Kesempatan tersebut akhirnya membuka jalan bagi Maryati untuk
melanjutkan sekolah.
Menjadi Pembantu Sambil Sekolah
Maryati
kemudian ikut bersama keluarga tersebut dan menjalani kehidupan sebagai batur
atau pembantu rumah tangga sambil bersekolah. Saat itu ia duduk di kelas 5 PGA.
Kehidupan tersebut dijalaninya dengan penuh perjuangan. Tidak lama kemudian,
keluarga tempatnya ikut pindah ke Prambanan. Maryati yang awalnya hanya berniat
mengantar akhirnya diminta untuk ikut tinggal di sana.
“Mar,
kalau kamu tidak ikut aku di sini, aku sama siapa di sini? Kamu harus ikut aku
di sini,” kenang Maryati mengingat pesan Bu Judi. Maryati akhirnya kembali ke
rumah untuk mengambil pakaian dan kemudian melanjutkan sekolah di Prambanan
selama satu tahun hingga lulus.
Menariknya,
ia tidak berani pulang ke kampung halaman sebelum memperoleh ijazah. Ia merasa
sungkan jika harus pulang tanpa membawa hasil pendidikan. Keinginan untuk
menyelesaikan pendidikan membuatnya bertahan hingga benar-benar memperoleh
ijazah.
Dari Prambanan Menuju Perguruan Tinggi
Setelah lulus, Maryati kembali mendapatkan dorongan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia kemudian mendaftarkan diri ke IAIN (saat ini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Persaingan masuk perguruan tinggi saat itu cukup ketat. Dari sekitar 500 pendaftar, hanya 150 orang yang diterima. Maryati menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil diterima. Namun, perjalanan pendidikannya kembali menghadapi kejutan. Belum menyelesaikan kuliah, Maryati justru lebih dahulu menikah.
“Belum
keluar ijazah, tetapi ijab sah-nya sudah diterima duluan,” kenangnya sambil
tertawa.
Pernikahan
tersebut berlangsung melalui proses perjodohan yang dilakukan oleh orang tua
asuhnya, Pak Pranoyoso. Calon suaminya merupakan seorang guru PGA di Klaten dan
seorang duda yang telah memiliki lima anak. Keduanya baru saling mengenal
sekitar dua bulan ketika kemudian Maryati dilamar. Dua bulan setelah lamaran,
keduanya melangsungkan pernikahan.
Menikah Sebelum Lulus Kuliah
Menjelang
pernikahan, perjuangan Maryati bahkan diwarnai sebuah kecelakaan. Saat hendak
mendaftar ke KUA, sekitar pukul lima pagi ia mengendarai sepeda dalam kondisi
jalan yang masih gelap. Di bagian depan sepedanya terdapat keranjang salak.
Jalan yang sedang dibangun membuatnya terjatuh. Keranjang salaknya hancur dan
Maryati mengalami cedera hingga tidak mampu berjalan.
“Saya
cuma ingat saya digendong karena tidak bisa jalan,” kenangnya.
Dalam
kondisi tersebut, ia tetap melangsungkan pernikahan. Bahkan pada saat acara
pernikahan, Maryati masih harus banyak berbaring karena belum dapat berjalan
dengan baik.
Pernikahan
tidak membuat pendidikannya berhenti. Ia tetap melanjutkan kuliah sembari
menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu. Dua anak lahir sebelum Maryati
menyelesaikan pendidikan Diploma 3 (D3). Setelah tiga tahun menjalani kuliah,
ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut. Namun, perjuangan
pendidikannya belum selesai.
Kuliah Lagi Saat Anak Ke-3 Baru 35 Hari
Ketika
anak ketiganya lahir dan baru berusia sekitar 35 hari atau selapan,
Maryati kembali mendapatkan dorongan untuk melanjutkan pendidikan. Ia kemudian
mendaftarkan diri untuk melanjutkan studi S1 di Universitas Muhammadiyah
Surakarta (UMS).
Keputusan
tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab sebagai ibu tidak membuatnya berhenti
belajar. Di tengah kesibukan mengurus keluarga dan membesarkan anak-anak, ia
kembali menjalani pendidikan hingga berhasil menyelesaikan studi S1.
Bagi
Maryati, pendidikan merupakan perjalanan yang harus terus ditempuh selama masih
memiliki kesempatan.
Mengabdi Sebagai Guru Hingga Pensiun
Setelah
menyelesaikan pendidikan, Maryati mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Sejak
tahun 1983, ia menjadi guru SMP dan menjalani pengabdian tersebut hingga
memasuki masa pensiun. Pendidikan yang dahulu diperjuangkannya dengan penuh
keterbatasan akhirnya menjadi jalan pengabdian sepanjang hidupnya. Di tengah
perjalanan sebagai pendidik, Maryati dan suaminya juga membesarkan enam orang
anak.
Menjalani
peran sebagai guru sekaligus ibu dari enam anak bukan pekerjaan mudah. Namun,
ia menjalani keduanya dengan ketekunan dan kesabaran. Kini, keenam anaknya
telah tumbuh dewasa dan menempuh jalan kehidupan masing-masing.
Bagi
Maryati, keberhasilan anak-anaknya menjadi salah satu kebahagiaan terbesar
dalam hidupnya. Pendidikan yang dahulu diperjuangkannya dari sebuah keluarga
sederhana di Tersidi Kidul kini menjadi bagian penting dalam kehidupan
keluarganya.
Pendidikan
sebagai Jalan Mengubah Kehidupan
Perjalanan
hidup Maryati menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu ditempuh melalui jalan
yang mudah. Ia adalah anak dari seorang tukang pijat tradisional. Ia pernah
meninggalkan kampung halaman untuk sekolah. Ia pernah menjadi pembantu rumah
tangga sambil belajar. Ia pernah kuliah sebelum menikah, kemudian menjadi istri
dan ibu tanpa meninggalkan pendidikan.
Bahkan
ketika anak ketiganya baru berusia 35 hari, ia kembali duduk sebagai mahasiswa
untuk menyelesaikan pendidikan S1. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa
keterbatasan bukanlah batas akhir bagi seseorang untuk meraih cita-cita.
“Kalau
masih ada kemauan, ya harus berusaha,” menjadi semangat yang tercermin dari
perjalanan panjang hidupnya.
Temu
kangen bersama teman-teman sekolah pada 6 Agustus 2026 pun akhirnya menjadi
lebih dari sekadar pertemuan untuk mengenang masa lalu. Pertemuan itu menjadi
ruang untuk berbagi pengalaman, mensyukuri kehidupan, sekaligus menyampaikan
pesan kepada generasi muda bahwa kesempatan untuk belajar dan memperbaiki
kehidupan harus terus diperjuangkan.
Dari
Tersidi Kidul, Maryati telah menempuh perjalanan panjang. Dari seorang anak
perempuan desa dengan ibu seorang tukang pijat tradisional, ia tumbuh menjadi
seorang pendidik, seorang istri, dan seorang ibu yang berhasil mendampingi enam
anak hingga dewasa. Kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya
tentang ijazah, tetapi tentang keberanian membuka jalan bagi kehidupan yang
lebih baik.
Perjalanan
Maryati juga menunjukkan bahwa seseorang tidak harus lahir dalam keadaan serba
berkecukupan untuk memiliki cita-cita besar. Dengan kemauan, ketekunan,
dukungan keluarga, dan kesempatan yang diperjuangkan, keterbatasan dapat
dilewati.
Dari
seorang anak tukang pijat di Tersidi Kidul, Maryati menembus batas pendidikan
dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian serta warisan berharga bagi enam
anaknya.
Tentang
Penulis
Lailla
Hidayatul Amin
merupakan putra kelima Maryati. Saat ini ia menjabat sebagai Dekan Fakultas
Tarbiyah IIM Surakarta dan sedang menyelesaikan studi doktoral (S3) pada
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), FITK, UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta.
Kisah
perjuangan Maryati ditulis sebagai bentuk penghormatan seorang anak kepada
ibunya, sekaligus sebagai upaya mengabadikan perjalanan hidup seorang perempuan
desa yang telah memberikan teladan tentang arti pendidikan, perjuangan,
pengabdian, dan keluarga. Mungkin bagi keluarga lain, kisah ini bukanlah
sesuatu yang istimewa. Namun, bagi kami, perjalanan hidup orang tua adalah
sebuah kisah yang luar biasa, penuh pelajaran, keteladanan, dan inspirasi. Dari
perjuangan mereka, kami belajar tentang arti keteguhan, pengorbanan, dan kasih
sayang yang tak pernah meminta balasan. Tulisan ini menjadi ungkapan hormat dan
cinta kami kepada orang tua, dari putra-putrimu yang hingga hari ini masih
merasa belum mampu membalas segala kebaikan dan pengorbanan yang telah
diberikan.
Editor:
(m/NI)
