Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Tukang Pijat dari Tersidi Kidul, Maryati Menembus Batas Pendidikan dan Membesarkan Enam Anak

Selasa, 08 September 2026 | September 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-08T14:59:22Z

 

Dok, Maryati, berkacamata menggunakan jilbab hijau muda posisi di tengah.


Narasi Indonesia.com, PURWOREJO- Berawal dari keluarga sederhana dengan ibu seorang tukang pijat tradisional, Maryati membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan. Perjalanan hidup perempuan asal Tersidi Kidul, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, itu penuh perjuangan. Merantau untuk sekolah, menjadi pembantu rumah tangga sambil belajar, kuliah, menikah sebelum lulus, membesarkan anak, hingga kembali melanjutkan pendidikan dan mengabdi sebagai guru sampai pensiun.


Kisah inspiratif tersebut kembali dikenang Maryati saat mengikuti temu kangen bersama rekan-rekan sekolah dasar angkatan 1965–1966 di Dlisen, Tersidi Lor, Pituruh, Purworejo, Kamis (6/8/2026). Sekitar 25 orang hadir dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut.


Bagi Maryati, temu kangen itu bukan sekadar ajang bernostalgia. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mengingat kembali masa sekolah sekaligus menyadari betapa cepat waktu berlalu. Hampir separuh rekan satu angkatannya telah meninggal dunia, sementara sebagian lainnya tidak lagi diketahui kabarnya.


“Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengingat kembali masa-masa sekolah. Banyak teman yang sudah tidak bersama kita lagi,” kenang Maryati.


Berawal dari Ibu Seorang Tukang Pijat

Maryati sebenarnya berasal dari keluarga besar dengan sepuluh bersaudara. Dari sepuluh bersaudara tersebut, hanya empat yang tersisa, dan tiga di antaranya kemudian menjadi guru. Keluarganya berasal dari Desa Tersidi Kidul, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Ibunya, Mbah Dul, bekerja sebagai tukang pijat tradisional dan menjadi orang tua tunggal sejak Maryati duduk di kelas 4 SD. Saat itu, adik bungsu Maryati, yang biasa dipanggil Lek Bolah, masih berada dalam kandungan. Kondisi tersebut membuat kehidupan keluarga semakin berat, tetapi justru di tengah keterbatasan itulah ibunya menanamkan keyakinan bahwa anak-anaknya harus bersekolah.


Mbah Dul selalu berpesan kepada anak-anaknya agar mereka sekolah. Ia sendiri pernah merasakan pendidikan, tetapi dahulu tidak diperbolehkan menjadi guru karena ada kekhawatiran akan ditempatkan di luar Jawa. Karena pengalaman itu, ia tidak ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama. “Kamu harus sekolah,” demikian pesan yang terus ditanamkan kepada anak-anaknya. Bagi keluarga mereka, sekolah menjadi pilihan yang harus diperjuangkan, bahkan ketika sawah yang dimiliki harus dijual untuk membiayai pendidikan.


Semangat tersebut menjadi bekal penting bagi Maryati. Sejak kecil, ia memiliki keinginan untuk terus bersekolah. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat cita-cita tersebut bukan sesuatu yang mudah diwujudkan. Pada masa itu, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bahkan merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi di desanya. Dalam satu generasi, hanya dua orang dari Desa Tersidi Kidul yang melanjutkan kuliah, yakni Maryati dan Iskandar. Iskandar merupakan anak seorang juragan tembakau sehingga kondisi ekonominya jauh lebih mapan. Iskandar kini telah meninggal dunia.


Di Desa Tersidi Kidul sendiri terdapat sebuah legenda yang turut menggambarkan kuatnya pandangan masyarakat pada masa itu. Konon, siapa pun yang berani menjadi guru atau pegawai akan meninggal dunia. Kepercayaan tersebut membuat pilihan untuk menjadi guru atau pegawai bukan sesuatu yang lazim. Namun, keluarga Maryati justru berani mendobrak pandangan tersebut. Tiga dari empat saudara yang tersisa kemudian menjadi guru. Kesempatan bagi Maryati untuk melanjutkan sekolah kemudian datang melalui pertemuan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


Suatu hari, Mbah Kiai Haji Yusuf Pranoyoso datang ke rumah Maryati bersama cucunya untuk meminta pijat kepada ibunya. Saat itu, sang ibu sedang berada di sawah. Maryati kemudian membuatkan pisang goreng untuk tamunya. Dalam percakapan tersebut, Mbah Yusuf mengetahui kondisi Maryati. Ia kemudian menawarkan agar Maryati ikut dengan keluarga kerabatnya yang memiliki hubungan dengan dunia pendidikan. Kesempatan tersebut akhirnya membuka jalan bagi Maryati untuk melanjutkan sekolah.


Menjadi Pembantu Sambil Sekolah

Maryati kemudian ikut bersama keluarga tersebut dan menjalani kehidupan sebagai batur atau pembantu rumah tangga sambil bersekolah. Saat itu ia duduk di kelas 5 PGA. Kehidupan tersebut dijalaninya dengan penuh perjuangan. Tidak lama kemudian, keluarga tempatnya ikut pindah ke Prambanan. Maryati yang awalnya hanya berniat mengantar akhirnya diminta untuk ikut tinggal di sana.


“Mar, kalau kamu tidak ikut aku di sini, aku sama siapa di sini? Kamu harus ikut aku di sini,” kenang Maryati mengingat pesan Bu Judi. Maryati akhirnya kembali ke rumah untuk mengambil pakaian dan kemudian melanjutkan sekolah di Prambanan selama satu tahun hingga lulus.


Menariknya, ia tidak berani pulang ke kampung halaman sebelum memperoleh ijazah. Ia merasa sungkan jika harus pulang tanpa membawa hasil pendidikan. Keinginan untuk menyelesaikan pendidikan membuatnya bertahan hingga benar-benar memperoleh ijazah.


Dari Prambanan Menuju Perguruan Tinggi

Setelah lulus, Maryati kembali mendapatkan dorongan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia kemudian mendaftarkan diri ke IAIN (saat ini UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Persaingan masuk perguruan tinggi saat itu cukup ketat. Dari sekitar 500 pendaftar, hanya 150 orang yang diterima. Maryati menjadi salah satu mahasiswa yang berhasil diterima. Namun, perjalanan pendidikannya kembali menghadapi kejutan. Belum menyelesaikan kuliah, Maryati justru lebih dahulu menikah.


“Belum keluar ijazah, tetapi ijab sah-nya sudah diterima duluan,” kenangnya sambil tertawa.


Pernikahan tersebut berlangsung melalui proses perjodohan yang dilakukan oleh orang tua asuhnya, Pak Pranoyoso. Calon suaminya merupakan seorang guru PGA di Klaten dan seorang duda yang telah memiliki lima anak. Keduanya baru saling mengenal sekitar dua bulan ketika kemudian Maryati dilamar. Dua bulan setelah lamaran, keduanya melangsungkan pernikahan.


Menikah Sebelum Lulus Kuliah

Menjelang pernikahan, perjuangan Maryati bahkan diwarnai sebuah kecelakaan. Saat hendak mendaftar ke KUA, sekitar pukul lima pagi ia mengendarai sepeda dalam kondisi jalan yang masih gelap. Di bagian depan sepedanya terdapat keranjang salak. Jalan yang sedang dibangun membuatnya terjatuh. Keranjang salaknya hancur dan Maryati mengalami cedera hingga tidak mampu berjalan.


“Saya cuma ingat saya digendong karena tidak bisa jalan,” kenangnya.


Dalam kondisi tersebut, ia tetap melangsungkan pernikahan. Bahkan pada saat acara pernikahan, Maryati masih harus banyak berbaring karena belum dapat berjalan dengan baik.


Pernikahan tidak membuat pendidikannya berhenti. Ia tetap melanjutkan kuliah sembari menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu. Dua anak lahir sebelum Maryati menyelesaikan pendidikan Diploma 3 (D3). Setelah tiga tahun menjalani kuliah, ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut. Namun, perjuangan pendidikannya belum selesai.


Kuliah Lagi Saat Anak Ke-3 Baru 35 Hari

Ketika anak ketiganya lahir dan baru berusia sekitar 35 hari atau selapan, Maryati kembali mendapatkan dorongan untuk melanjutkan pendidikan. Ia kemudian mendaftarkan diri untuk melanjutkan studi S1 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).


Keputusan tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab sebagai ibu tidak membuatnya berhenti belajar. Di tengah kesibukan mengurus keluarga dan membesarkan anak-anak, ia kembali menjalani pendidikan hingga berhasil menyelesaikan studi S1.


Bagi Maryati, pendidikan merupakan perjalanan yang harus terus ditempuh selama masih memiliki kesempatan.


Mengabdi Sebagai Guru Hingga Pensiun

Setelah menyelesaikan pendidikan, Maryati mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Sejak tahun 1983, ia menjadi guru SMP dan menjalani pengabdian tersebut hingga memasuki masa pensiun. Pendidikan yang dahulu diperjuangkannya dengan penuh keterbatasan akhirnya menjadi jalan pengabdian sepanjang hidupnya. Di tengah perjalanan sebagai pendidik, Maryati dan suaminya juga membesarkan enam orang anak.


Menjalani peran sebagai guru sekaligus ibu dari enam anak bukan pekerjaan mudah. Namun, ia menjalani keduanya dengan ketekunan dan kesabaran. Kini, keenam anaknya telah tumbuh dewasa dan menempuh jalan kehidupan masing-masing.


Bagi Maryati, keberhasilan anak-anaknya menjadi salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Pendidikan yang dahulu diperjuangkannya dari sebuah keluarga sederhana di Tersidi Kidul kini menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya.


Pendidikan sebagai Jalan Mengubah Kehidupan

Perjalanan hidup Maryati menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu ditempuh melalui jalan yang mudah. Ia adalah anak dari seorang tukang pijat tradisional. Ia pernah meninggalkan kampung halaman untuk sekolah. Ia pernah menjadi pembantu rumah tangga sambil belajar. Ia pernah kuliah sebelum menikah, kemudian menjadi istri dan ibu tanpa meninggalkan pendidikan.


Bahkan ketika anak ketiganya baru berusia 35 hari, ia kembali duduk sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan S1. Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah batas akhir bagi seseorang untuk meraih cita-cita.


“Kalau masih ada kemauan, ya harus berusaha,” menjadi semangat yang tercermin dari perjalanan panjang hidupnya.


Temu kangen bersama teman-teman sekolah pada 6 Agustus 2026 pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan untuk mengenang masa lalu. Pertemuan itu menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, mensyukuri kehidupan, sekaligus menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa kesempatan untuk belajar dan memperbaiki kehidupan harus terus diperjuangkan.


Dari Tersidi Kidul, Maryati telah menempuh perjalanan panjang. Dari seorang anak perempuan desa dengan ibu seorang tukang pijat tradisional, ia tumbuh menjadi seorang pendidik, seorang istri, dan seorang ibu yang berhasil mendampingi enam anak hingga dewasa. Kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang ijazah, tetapi tentang keberanian membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik.


Perjalanan Maryati juga menunjukkan bahwa seseorang tidak harus lahir dalam keadaan serba berkecukupan untuk memiliki cita-cita besar. Dengan kemauan, ketekunan, dukungan keluarga, dan kesempatan yang diperjuangkan, keterbatasan dapat dilewati.


Dari seorang anak tukang pijat di Tersidi Kidul, Maryati menembus batas pendidikan dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian serta warisan berharga bagi enam anaknya.


Tentang Penulis


Lailla Hidayatul Amin merupakan putra kelima Maryati. Saat ini ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IIM Surakarta dan sedang menyelesaikan studi doktoral (S3) pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), FITK, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Kisah perjuangan Maryati ditulis sebagai bentuk penghormatan seorang anak kepada ibunya, sekaligus sebagai upaya mengabadikan perjalanan hidup seorang perempuan desa yang telah memberikan teladan tentang arti pendidikan, perjuangan, pengabdian, dan keluarga. Mungkin bagi keluarga lain, kisah ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Namun, bagi kami, perjalanan hidup orang tua adalah sebuah kisah yang luar biasa, penuh pelajaran, keteladanan, dan inspirasi. Dari perjuangan mereka, kami belajar tentang arti keteguhan, pengorbanan, dan kasih sayang yang tak pernah meminta balasan. Tulisan ini menjadi ungkapan hormat dan cinta kami kepada orang tua, dari putra-putrimu yang hingga hari ini masih merasa belum mampu membalas segala kebaikan dan pengorbanan yang telah diberikan.


Editor:

(m/NI)

×
Berita Terbaru Update