Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jepang Lepas 80 Juta Barel Minyak Cadangan Imbas Perang, Terbesar dalam Sejarah

Selasa, 24 Maret 2026 | Maret 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-24T12:07:23Z

Narasi Indonesia.com, Jakarta - Pemerintah Jepang akan memulai pelepasan minyak terbesar sepanjang sejarah dari cadangan strategisnya pada pekan ini. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyebut langkah ini diambil sebagai antisipasi potensi kekurangan pasokan akibat perang Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS).


Mengutip The Guardian, pekan lalu, pemerintah telah menyetujui pelepasan cadangan dari sektor swasta selama 15 hari. Kebijakan ini ditempuh di tengah kekhawatiran bahwa perang di Iran akan terus mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, dikutip pada laman resmi Kumparan.com.


Takaichi mengatakan pelepasan cadangan milik negara akan dimulai pada Kamis (26/3). Secara keseluruhan, sekitar 80 juta barel minyak akan dilepas ke kilang domestik secara bertahap.


Jumlah ini setara dengan kebutuhan dalam negeri selama 45 hari dan mencapai 1,8 kali lipat dibandingkan cadangan yang digunakan setelah bencana Gempa dan Tsunami Fukushima 2011 yang memicu penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir.


Hingga akhir tahun lalu, Jepang tercatat memiliki total cadangan minyak sekitar 470 juta barel, setara dengan konsumsi domestik selama 254 hari.


Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan subsidi untuk menahan harga bahan bakar agar tetap di kisaran ¥170 per liter. Kebijakan ini diambil setelah harga rata-rata bensin melonjak ke rekor tertinggi ¥190,8 per liter, dengan evaluasi subsidi dilakukan setiap pekan mengikuti pergerakan harga minyak global.


Jepang merupakan negara mengimpor lebih dari 90 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah. Dalam pernyataannya, Takaichi menegaskan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah sangat penting, tidak hanya bagi Jepang tetapi juga komunitas internasional. Dia memastikan pemerintah Jepang akan terus melakukan upaya diplomatik secara intensif dengan negara-negara terkait.


Takaichi juga mengungkapkan dalam pertemuannya dengan Donald Trump di Washington, dia menolak permintaan untuk mengirim pasukan pertahanan diri maritim Jepang ke kawasan tersebut dan menegaskan konstitusi pascaperang Jepang tidak mengizinkan pengiriman pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz.


Di sisi lain, kekhawatiran penutupan Selat Hormuz turut memicu kecemasan masyarakat terkait ketersediaan barang kebutuhan sehari-hari, termasuk tisu toilet. Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak panic buying.


Asosiasi Industri Kertas Rumah Tangga Jepang menyatakan sekitar 97 persen tisu toilet di Jepang diproduksi di dalam negeri dari bahan daur ulang. Industri tersebut juga menegaskan tidak bergantung pada bahan baku dari Timur Tengah dan memastikan pasokan tetap aman, bahkan siap meningkatkan produksi jika diperlukan.


Meski demikian, kekhawatiran tetap menyebar di media sosial. Sejumlah pengguna mengaku mulai menimbun barang kebutuhan, sementara lainnya mengingatkan bahwa aksi panik justru bisa memicu kelangkaan sementara di pasaran.*

×
Berita Terbaru Update